Mouly Surya dapat subsidi dari Prancis

  • Bagikan
Mouly Surya

Jakarta, 60menit.id – Film terbaru sutradara Mouly Surya, “Perang Kota”, mendapatkan subsidi Aide aux cinémas du monde dari Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Luar Negeri Prancis yang dikelola oleh Centre National du Cinéma et de l’Image Animée (CNC) dan Institut Français.

“Perang Kota” menjadi satu dari enam film yang mendapatkan subsidi ini dari kategori sutradara berpengalaman lebih dari dua film.

“Perang Kota” diadaptasi dari novel sastra klasik Indonesia, “Jalan Tak Ada Ujung”, karya Mochtar Lubis, yang diterbitkan pertama kali pada tahun 1952.

Film ini bercerita tentang Isa – seorang pahlawan perang impoten dan juga guru sekolah di Jakarta – mencoba meraih kembali kejayaan lamanya demi sejumlah uang dalam misi meledakan sebuah bioskop untuk membunuh seorang jenderal Belanda, sementara Belanda dan Inggris berkolaborasi untuk menjajah Indonesia Kembali pasca Perang Dunia II.

“Ini menandai proyek kedua kami yang mendapat dukungan dari salah satu funding terpenting di industri film, Cinema du Monde. Dukungan ini akan memungkinkan keterlibatan teknisi dan professional film terbaik dari Prancis untuk bergabung dengan tim produksi kami,” kata produser Rama Adi dalam siaran resmi.

Subsidi ini diberikan melalui mitra ko-produksi asal Prancis yaitu Isabelle Glachant dari Shasha and Co Production, dan memiliki syarat 50 persennya harus dikeluarkan untuk jasa dari Prancis.

Ini merupakan kerja sama ko-produksi kedua antara Cinesurya dengan Shasha and Co Production, setelah sebelumnya sama-sama menggarap “Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak” pada 2017.

“Merupakan kegembiraan yang luar biasa untuk bekerja dengan Mouly di ‘Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak’, dan melihatnya menjadi film Indonesia pertama yang diputar di Director’s Fortnight Cannes. Saya senang bisa kembali bergabung menjadi tim produser yang terlibat dalam proyek baru ini. Proyek film ‘Perang Kota’ adalah tantangan artistik dan produksi, tempat yang sempurna untuk bakat Mouly Surya,” ujar Isabelle Glachant.

Film “Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak” baru saja diumumkan masuk seleksi program khusus 10 film Asia terbaik oleh sutradara perempuan dari Busan International Film Festival yang akan diselenggarakan pada Oktober tahun ini.

Termasuk dalam daftar tersebut antara lain dua nominasi Piala Oscar untuk film asing terbaik, “Salaam Boombay” (1988, India) dari sutradara Mira Nair, dan “Capernaum” (2018, Libanon) dari sutradara Nadnie Labaki.

Cinémas du Monde memiliki komite yang memilih proyek berdasarkan skenario film dengan kriteria penilaian seperti kualitas artistik, kemampuan menunjukan sudut pandang dan ide baru dalam skenarionya serta visi sutradara.

“Prancis selama beberapa dekade melekat pada ko-produksi internasional yang memberi ruang dan dukungan bagi sutradara non-Prancis untuk mewujudkan visi dan cerita mereka sendiri. Saya sangat menantikan kami dapat melakukan perjalanan ke Indonesia dan berpartisipasi dalam petualangan baru ini,” imbuh Isabelle.

Produser Eksekutif Willawati dari Kaninga Pictures mengatakan bahwa pihaknya sangat antusias bisa kembali mendukung visi terbaru sutradara Mouly Surya.

Dukungan yang diberikan pemerintah Prancis ini menunjukan film Indonesia semakin diakui dan didukung di kancah internasional.

Film ini diproduseri oleh Rama Adi, Fauzan Zidni dan Chand Parwez Servia dan merupakan ko- produksi internasional antara Cinesurya, Starvision, Kaninga Pictures, Shasha and Co- production (Prancis), Giraffe Pictures (Singapura), Volya Films (Belanda), DuoFilm (Norwegia) dan Epic Media (Filipina).

Saat ini Mouly berada di Amerika Serikat untuk mempersiapkan produksi film bergenre action-thriller, “Trigger Warning”, yang dibintangi oleh Jessica Alba.

“Trigger Warning” rencananya akan tayang di layanan streaming Netflix. Nama besar lainnya dalam film itu adalah Basil Iwanyk dan Erica Lee dari rumah produksi Thunder Road.

Basil adalah produser di balik franchise Jhon Wick, Sicario, dan Wind River. Selain itu, Josh Olson dan John Brancato adalah orang di balik skenario film ini.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *